Riwayat Edo (Bagian #2)

Aku hubungi Hani, adik Edo yang selama ini selalu bantu mengakses ARV ke rumah sakit. Menurut Hani,  Edo sudah lama putus obat dari rumah sakit HB. Saanin, rumah sakit jiwa. Kemudian, aku menyarankan besok kembali membawa kakaknya ke rumah sakit yang diakses Edo untuk pengobatan HIV bertemu dokter dan menjelaskan kondisi yang terjadi saat ini, termasuk riwayat dia pernah minum obat kejiwaan,  Sembari itu, aku  menelepon salah seorang teman dokter yang ada di ruangan VCT, menceritakan kondisi Edo.

Saat panas terik, salah satu WAG-ku berbunyi—WAG kelurahan tempat aku tinggal di mana penghuni grup itu ada lurah, staf kelurahan, ketua RW, ketua RT, tokoh masyarakat, dan beberapa perwakilan masyarakat. Aku membaca pesan yang masuk, ada foto dan video yang di bawahnya tertulis pesan, “Hati-hati dengan orang ini, dia orang gila dan saat ini sedang mengidap penyakit HIV.”

Ya, Allah … terlihat di dalam foto dan video itu wajah yang aku kenal, Edo, walaupun  hanya tampak dari belakang dan samping. Pesan yang dikirim itu datangnya dari salah seorang Ibu kader yang tinggal di sekitar rumah Edo.  Aku langsung balas pesan itu dengan mengirimkan beberapa poster tentang penularan HIV AIDS dan mitos. Tujuannya untuk memberikan pemahaman singkat kepada mereka agar tidak  melakukan stigma dan diskriminasi.

Alhamdulillah, beberapa orang merespon pesanku sehingga edukasi singkat memberikan pemahaman. Aku mengajak anggota WAG diskusi lanjut isu HIV, jika berminat bisa hubungi aku, dan menginformasikan bahwa aku bisa dapat diundang pada pertemuan kelompok masyarakat yang ada di sekitar tempat tinggal.

Setelah melakukan diskusi panjang dengan ketua RT tempat Edo tinggal, akhirnya kami sepakat untuk mengumpulkan warga di mushola.  Setelah sholat Isya, aku dan satu orang teman ODHIV dari lembaga pendamping memberikan sosialisasi HIV kepada warga setempat. Menjelaskan tentang sikap mereka yang sudah salah terhadap Edo, sehingga membuatnya tertekan dan mengamuk setiap saat, karena tidak diterima di lingkungan. Ditambah dengan testimoni dari teman ODHIV yang sangat membantu. Akhirnya warga paham dan berjanji bahwa akan mengubah sikap mereka. Informasi yang keliru membuat mereka  salah mengambil sikap. Aku sudah sedikit lega karena satu persatu rencanaku untuk membuat perubahan sudah berjalan.

***

Plesback sedikit ya, Gais

Kenapa banyak tetangga yang mengetahui status Edo yang positif HIV? Dengan lugu Etek menjawab, “Etek tidak  tau apo sakik HIV tu do. Etek  pai kalapau, kalau  ado yang batanyo Edo sakik apo? Etek jawek anak etek sakik HIV.”

Ternyata ibu sendiri yang menceritakan kepada warga sekitar tentang sakit anaknya selama ini, karena dia tidak paham dengan penyakit anaknya dan tidak menyangka respon masyakarat yang sangat buruk  Ya, sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Pelan-pelan  lewat  konseling, beliau bisa memahami tentang kondisi anaknya.

Suatu hari setelah aku memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar, ada kejadian yang tidak akan aku lupakan. Aku masih ingat, sekitar jam 9 malam, tiba-tiba telepon genggamku berdering, Hani menangis, minta tolong datang ke rumah. Bersama suami, aku menuju rumah Edo. Di pintu rumah, Ibu Edo menangis meraung-raung. Rumah itu terlihat berantakan seperti habis terjadi pertengkaran hebat.  Melihat aku datang, sang Ibu langsung menyeretku ke kamar Edo.

Edo marah dengan suara keras, mengeluarkan kata-kata kasar, sempat terdengar ada suara pukulan. Pintu dibuka paksa, apa yang kulihat sangat menyakitkan, air mataku jatuh, karena Kak Santi dan suaminya sedang memasung kaki Edo dengan kayu. Lalu, tangan Edo diikat, di atas kasur yang  berantakan.

Melihat aku masuk, Edo menjerit pilu sambil memanggil namaku dan mengerang minta tolong. Aku tak kuat melihat kondisi ini. Aku marah dengan mereka. Dengan tegas, aku bersama suami meminta mereka membuka semua ikatan dan kayu yang memasung kaki Edo. Awalnya, kakak Edo tidak bersedia, tapi sedikit ancaman keras kepada kedua suami istri itu, akhirnya mereka membuka semua ikatan yang menyakiti tubuh Edo.

Dengan sigap, kami membersihkan kamar Edo. Setelah itu, Edo memintaku menyuapkan dia makan dan minum obat, dia minta jangan tinggalkan dia, nanti takutnya dipasung lagi. Aku berjanji kepada Edo tidak akan terulang kejadian pasung-memasung lagi. Setelah Edo tertidur, aku mengajak Kak Santi dan suami serta seluruh anggota keluarga untuk berkumpul. Di situlah aku mulai memberikan edukasi dan penguatan kepada keluarga bahwa memasung adalah tindakan tidak manusiawi,

Satu persatu penjelasanku dapat diterima keluarga.  Dukungan merekalah yang sangat diperlukan oleh Edo. Tidak perlu menjauhi Edo. Mari saling mendukung dan fokus pada pengobatan Edo.

Akhirnya,  semua berjalan lebih  baik, bebanku  terasa ringan, legaaaa sekali bisa membuat perubahan. Sampai saat kalian membaca tulisanku ini, Edo dan keluarga hidup saling mendukung.  Begitu juga warga dan lingkungan, aku tidak lagi mendengar ada yang mengusir Edo, anak-anak juga sudah bermain lepas tanpa takut ketemu dengannya. Edo sehat, gemuk dan bugar.

Walaupun Etek tidak bertambah banyak timbangan berat badannya, tapi terlihat lebih tenang dan bahagia. Kakak Santi dan suami pun sangat memperhatikan kebutuhan Edo. Bahkan mereka sekarang sudah melepaskan Edo mengambil sendiri obatnya setiap bulan ke layanan. Tidak ada yang tidak bisa, jika kita mulai dari diri sendiri. Mari, hapuskan stigma dari dini.

Penulis

Lova Alodya; Seorang ibu dari 2 orang anak, Faizi dan Shira dari Ali Nasril, suami yang selalu mendukung kegiatan dari perempuan yang banyak mau ini. Saat ini menetap di kota Padang, belajar dan bekerja PKBI Sumbar.
Instagram: @lovaalodya; @pkbi.sumbar

Sebarkan