Kewirausahaan Sosial Untuk Keberlanjutan Organisasi:“Antara Peternakan dan Koperasi”

Ketergantungan pada pendonor menjadi isu organisasi masyarakat sipil (OMS) HIV AIDS, yang sebenarnya sudah terjadi sebelum pandemi. Suhendro Sugiharto, tim impact+, mengajak dua orang perwakilan OMS untuk berbagi inspirasi kewirausahaan sosial, pada podcast impact+ di Bandung.

Bang Jun, panggilan akrab Junaedi Galinging, Koordinator Program Yayasan Mutiara Maharani (YMM), bercerita awal mereka menjalankan kewirausahaan tahun 2004. Tujuan mereka adalah ingin klien YMM tak hanya memperoleh pengetahuan, tapi juga life skill saat masih berada di rehabilitas Napza. Bahwa pengguna Napza yang pulih itu dapat bekerja.

Lokasi rehabilitas yang ditunjang kebun yang luas dan berdekatan dengan warga, dimanfaatkan untuk bercocok tanam, beternak domba dan kambing, dan bengkel pembuatan tangki air serta bensin.

Lain lagi kisah Yayasan Intermedika Prana yang fokus pada penjangkauan dan pendampingan HIV AIDS. Ahmad Maulana atau sering dipanggil Alan, manajer program, berkisah koperasi yang mereka miliki. Didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan staf yayasan dan pendamping. Barang-barang yang dijual, “Sudah seperti toserba,” respon Suhendro saat mendengar Alan.

Pembelinya pun tak hanya staf yayasan atau para pendamping, tapi juga masyarakat sekitar. Bahkan, pembeli online. Yang bikin kaget, Pertamina ternyata salah satu pelanggan, pemesan tangki bensin buatan YMM.

“Kita juga punya kopi liberica, dan itu bestseller,” ucap Alan.

Kisah kedua OMS terkesan lancar, di balik itu, mereka juga mengalami hambatan-hambatan. Bagaimana mereka menghadapinya dan menguatkan sistem keberlanjutan yang telah dibangun?

Sebarkan